Laporan Hasil Observasi Sekolah (ppt) Kelompok 2:
Ketua:
Ibrena Putri (131301112)
Anggota:
Miranda Purnama (131301008)
Yolanda Maranatha (131301080)
Syauqina Batubara (131301082)
Rizka Amalia Lubis (131301134)
https://drive.google.com/file/d/0B3WFwk86BKIeUGY3U3RsRXhqMWs/edit?usp=sharing
Sabtu, 19 April 2014
Laporan Hasil Observasi Sekolah (Kelompok 2)
Kelompok 2:
Ketua:
Ibrena Putri (131301112)
Anggota:
Miranda Purnama (131301008)
Yolanda Maranatha (131301080)
Syauqina Batubara (131301082)
Rizka Amalia Lubis (131301134)
Ketua:
Ibrena Putri (131301112)
Anggota:
Miranda Purnama (131301008)
Yolanda Maranatha (131301080)
Syauqina Batubara (131301082)
Rizka Amalia Lubis (131301134)
Senin, 24 Maret 2014
Teori Vygotsky
Lev Vygotsky (1896-1934) seorang
penggemar teori Piaget dari Rusia yang percaya bahwa anak aktif dalam menyusun
pengetahuan mereka. Asumsi Vygotsky. Ada
3 klaim dalam inti pandangan Vygotsky :
1.
Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila
dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental. Yaitu memahami fungsi
kognitif anak dengan memeriksa asal-usulnya dan transformasinya.
2.
Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa
dan bentuk kursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan
mentranformasi aktivitas mental. Dalam memahami fungsi kognitif kita harus
memerksa alat yang menjadi perantara dan membentuknya, dan bahasa adalah alat yang paling penting.
3.
Kemampuan kognitif berasal dari relasi social dan
dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural. Artinya memperoleh pengetahuan
dapat dicapai dengan baik melalui interaksi dnegan orang lain dalam kegiatan
bersama.
Menerapkan Teori Piaget untuk
Pendidikan Anak
1.
Gunakan pendekatan konstruktif
Cth : dalam pembelajaran anak harus diajak
aktif yaitu dalam berdialog, berpikir, memberikan pendapat dan berdiskusi
2.
Fasilitasi mereka untuk belajar.
Cth : dalam pembelajran guru harus mengamati,
mndengarkan dan memberi pertanyaan pada
murid agar murid menjadi aktif.
3.
Pertimbangkan pengetahuan dan tingkat oemikiran
anak.
4.
Gunakan penilaian terus menerus
5.
Tingkatkan kemampuan intelektual murid.
6.
Jadikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi dan
penemuan.
ZPD (Zone of Proximal
Development)
Dalam 3 klaim dasar ini,
Vygotsky mengajukan gagasan yaitu Zone of proximal developmnet merupakan celah
antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah
seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah
seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama
dengan teman sebaya.
Maksud dari ZPD adalah
menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan
anak. Ketika siswa mengerjakan pekerjaanya di sekolah sendiri, perkembangan
mereka kemungkinan akan berjalan lambat. Untuk memaksimalkan perkembangan,
siswa seharusnya bekerja dengan teman yang lebih terampil yang dapat memimpin
secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks.
Scaffolding
Teori
Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding merupakan suatu
istilah pada proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak
melalui Zone of proximal developmentnya.
Scaffolding adalah memberikan kepada
seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap - tahap awal pembelajaran
dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak
tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia
mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk,
peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan
siswa dapat mandiri. Dalam hal ini Dialog adalah alat penting.
Karya Vygotsky didasarkan pada tiga ide
utama: (1) bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide
baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah
ketahui; (2) bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan
intelektual; (3) peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan
mediator pembelajaran siswa (Nur, 2000b: 10).
Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan
kognitif (Sugihartono,dkk, 2007:115) adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan
pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2. Menyediakan
berbagai alternatif penglaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama,
misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
3. Mengintegrasikan
pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan dengan melibatkan
pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui
kenyataan kehidupan sehari-hari.
4. Mengintegrasikan
pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi social, yaitu
terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan
lingkungannya, misalnya interaksi dan kerja sama antara siswa, guru, dan
siswa-siswa.
5. Memanfaatkan
berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajarn
lebih efektif.
6. Melibatkan
siswa secara emosional dan social sehingga siswa menjadi tertarik dan mau
belajar.
Bahasa dan Pemikiran.
Anak-anak menggunakan bahasa
bukian hanya untuk komunikasi social, tetapi juga untuk merencanakan,
memonitorperilaku mereka dengan caranya sendiri. penggunaan bahasa untuk
mengatur diri sendiri dinamakan “pembicaraan batin” (inner speech) atau “pembicaraan
private” (private speech) biasanya
terjadi antara usia 3 – 7 tahun, disini anak biasanya akan berbicara pada diri
mereka sendiri. Menurut Vygotsky private
speech adalah alat penting bagi pemikiran selama masa kanak-kanak dan biasanya
anak akan lebih kompeten secara social.
PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa adalah bentuk komunikasi
, entah itu lisan, tertulis atau tanda, yang didasarkan pada system symbol. Bahasa
yang diucapkan terdiri dari suara atau fonem. Fonologi adalah system suara
bahasa.
Morfologi adalah aturan untuk
mengombnasikan morfem yang merupakan serangkain suara yang bermakna yang
merupakan kesatuan bahasa terkecil.
Sintaksis adalah cara kata yang
dikombinasikan untuk membentuk frasa dan kalimat yang dapat ditrima.
Semantik adalah makna dari kata
atau kalimat.
Pragmatis adalah penggunaan
percakapan yang tepat.
Pengaruh BIologis dan Lingkungan
Anak juga bervariasi dalam
penguasaan bahasa dengan cara yang tidak dapat dijelaskan melalui kerangka
lingungan saja. Contohnya anak yang tinggal di keluarga yang tercukupi akan
berbeda penggunaan bahasanya dengan anak yang tinggal dengan keluarga yang
miskin. Dalam penggunaan bahasapun anak juga cenderung dipengaruhi biologis
mereka dalam artian bahasa yang mereka keluarkan merupakan dorongan dari dalam
diri mereka.
Bagaimana Bahasa Berkembang
Celoteh dimulai usia 3-6 bulan.
Bayi biasanya mengucapkan kata pertamanya pada usia 10-13 buloan. Pada usia 24
bulan, bayi dengan cepat memahami arti kata dan mulai menciptakan frase sperti “pipis”,
“punyaku”, dan “cium mama”.
Saat bayi menginjak usia
kanak-kanak , pemahaman mereka akan bahasa akan meningkat. Anak akan semakin
mampu menghasilkan semua suara bahasa bahkan bisa mengahsilkan serangkain
konsonan yang kompleks.
Teknologi dan Perkembangan
Kosakata Anak
3 cara untuk membantu
pengembangan kosakata anak dengan menggunakan 3 jenis teknologi.
1. Komputer
2. Audiobooks
3. Televise Pendidikan
Kesimpulan
:
Setiap anak
akan mengalami perkembangan bahasa dan perkembangan kognitif dimana setiap
perkembangan tersebut harus dipacu dan di respon serta difasilitasi. Setiap faktor
yang mempengaruhi perkembangan tersebut haruslah dikontrol dalam arti diamati
dan diberi respon terhadap perkembangan yang dialami oleh anak. Bukan hanya
anak yang berusia 10 bulan, 1tahun, 3 tahun dan 7 tahun, tetapi sepanjang usia
kita akan tetap mengalami perkembangan pemikiran dan bahasa.
refrensi :
https://docs.google.com/document/d/1B71AlkABQA4yTc02rfWqO_RTKzxVI642ncn0n_36Sv8/edit
http://masrush.wordpress.com/2011/02/12/teori-lev-vygotsky-1896-1934/
Psikologi Pendidikan edisi kedua John W. Santrock
Rabu, 12 Maret 2014
PSIKOLOGI PENDIDIKAN dengan BIDANG TEKNOLOGI
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Psikologi Pendidikan adalah ilmu
yang mempelajari tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi
studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan
dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan
keefisien dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang
berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas
fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.
Pendidikan sebagai suatu proses
perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari psikologi.
Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan manusia.
A. Ruang Lingkup Psikologi Dalam Pendidikan
Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang
khusus diperuntukkan bagi peserta didik. Karena itu, ruang lingkup pokok
bahasan psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai
suatu ilmu, juga berbagai aspek psikologis para peserta didik khususnya ketika
mereka terlibat dalam proses belajar maupun proses belajar mengajar.
Secara garis besar, banyak ahli yang membatasi
pokok-pokok bahasan psikologi pendidikan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Pokok bahasan mengenai “belajar” yang meliputi
teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri has perilaku belajar siswa dan sebagainya.
2. Pokok
bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi
dalam kegiatan belajar siswa.
3. Pokok bahasan mengenai “situasi
belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non
fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa
B.
Peran
Psikologi Pendidikan Dalam Proses Pembelajaran

Benjamin Bloom yaitu Mastery Learning “”anak-anak dapat melakukan tugas yang lebih berat apabila
sebelumnya ia telah menguasai tugas yang lebih ringan”.
Ada juga lima pendekatan yang dapat digunakan dalam
menyusun teori pengajaran yaitu :
a.
Teori
pengajaran pendekatan modifikasi tingkah laku
b.
Teori
pengajaran pendekatan psikologi kognitif
c.
Teori
pengajaran pendekatan kaidah belajar
d.
Teori
pengajaran pendekatan analisis tugas
e.
Teori
pengajaran pendekatan psikologi humanistik
Tidak hanya dalam proses pengajaran, ada juga teori-teori
belajar yang memiliki kaitan terhadap teori pengajaran yang dikemukakan oleh
beberapa ahli yaitu :
a.
Teori Belajar
Konneksionisme (Thorndike)
Mengemukakan
bahwa hasil eksperimen terbaru dapat digunakan untuk mengoreksi hasil
penelitian sebelumnya.
b.
Teori
Belajar Kondisioning (Ivan P Pavlov)
Teori
ini mengimplikasikan bahwa pentingnya mengkondisi stimulus agar terjadinya
respon .
c.
Teori Belajar
Behaviorisme Deduktif-Hepotetik (Clark L. Hull)
Menurut
teori ini, belajar adalah perubahan tingkah laku melalui kekuatan kebiasaan.
d.
Teori Belajar
Operant Conditioning (Skinner)
Teori
ini mengemukakan hubungan antara penguat dan tingkah laku. Skinner mengemukakan
konsep extinction dari penguat yaitu proses bila operant yang telah terbentuk
tidak mendapat respon.
e.
Teori Belajar
Medan Kognitif (Kurt Lewin)
Teori
ini memusatkan perhatian pada aspek psikologis pribadi yang sedang belajar yang
digambarkan dalam bentuk konsep yang disebut life space. Apabila guru menguasai
konsep ini maka guru dapat meramalkan, mengarahkan tingkah laku para peserta
didik serta dapat mengembangkan pribadi sendiri.
C.
Manfaat Mempelajari Psikologi Pendidikan Bagi Pendidik
Adapun
manfaat terpenting yang dapat diambil setelah menguasai psikologi pendidikan
yaitu pendidik mampu mengetahui metode efektif yang dapat diterapkan kepada
peserta didik. Sehingga proses belajar mengajar menjadi aktif.
PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN TERHADAP
PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMPUTER

Hubungan Psikologi Pendidikan dengan
Teknologi Pembelajaran
Media berasal dari bahasa
latin, asal kata jamaknya adalah medium. Medium arti sederhananya adalah
ANTARA. Kembali ke istilah belajar. Belajar terjadi ketika ada interaksi dengan
sumber belajar (mengalami). Untuk berinteraksi dengan sumber belajar, tentunya
perlu “makelar” alias “perantara”. Disitulah peran penting diperlukannya apa yang
dinamakan MEDIA. Tentu saja, dalam hal ini adalah media pembelajaran.
Teknologi pendidikan
memegang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya TIK, dimana
komputer menjadi bagian integral didalamnya. Teknologi pendidikan merupakan pengembangan,
penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan alat-alat baru untuk
memperbaiki proses pembelajaran.
Perlu diingat, teknologi
tidak akan menggantikan guru. Teknologi pembelajaran, sebenarnya memiliki
posisi dan peran sebagai pengembang multimedia pembelajaran yang bermutu. Tentu
saja bekerjasama dengan pihak lain.
.
Dengan mengkombinasikan
soft-technology (seperti strategi, metode pembelajaran) yang tepat dengan
hard-technology yang ada, maka seorang pengajar dapat menyulap proses
pembelajaran menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan efektif (tujuan
tercapai). Dalam hal ini, bukan teknologi yang membuat suatu pembelajaran
berhasil, tapi ketepatan menerapkan teknologi itulah yang menyebabkan suatu
pembelajaran berhasil dengan baik.
PEMANFAATAN
TIK DALAM PENDIDIKAN BERKARAKTER
Pendidikan karakter sangat
penting dalam rangka pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas,
bermartabat, dan berkarakter, sehingga perlu benar-benar dijaga agar
pemanfaatan TIK tidak mengganggu pembentukan karakter peserta didik, melainkan
justru mendukungnya. Tidak ada gunanya mendidik anak menjadi sangat pintar
tetapi karakternya buruk dan/atau lemah, sehingga justru dengan kepandaiannya
tersebut kelak mereka akan membuat kerusakan/kejahatan atau menimbulkan
kerugian, baik bagi diri sendiri, bagi masyarakat, maupun bagi bangsa. Oleh
sebab itu, pemanfaatan TIK dalam pendidikan perlu dirancang, direncanakan,
dilaksanakan.
Hendaknya diterapkan
prinsip-prinsip berikut:
1 Mempertimbangkan karaktersitik peserta
didik, pendidik, dan tenaga kependidikan dalam keseluruhan pembuatan keputusan
TIK.
2) Dirancang untuk
memperkuat minat dan motivasi pengguna untuk menggunakannya semata guna
meningkatkan dirinya, baik dari segi intelektual, spiritual (rohani), sosial,
maupun ragawi.
3) Pemanfaatan
TIK sebaiknya menumbuhkan kesadaran dan keyakinan akan pentingnya kegiatan
berinteraksi langsung dengan manusia (tatap muka), dengan lingkungan
sosial-budaya (pertemuan, museum, tempat-tempat bersejarah), dan lingkungan
alam (penjelajahan) agar tetap mampu memelihara nilai-nilai sosial dan
humaniora (seni dan budaya), dan kecintaan terhadap alam sebagai anugerah dari
Tuhan Yang Maha Esa.
4) Pemanfaatan
TIK sebaiknya menjaga bahwa kelompok sasaran tetap dapat mengapresiasi
teknologi komunikasi yang sederhana dan kegiatan-kegiatanpembelajaran tanpa TIK
karena tuntutan penguasaan kompetensi terkait dalam rangka mengembangkan
seluruh potensi siswa secara seimbang.
5) Pemanfaatan
TIK sebaiknya mendorong pengguna untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif
sehingga tidak hanya puas menjadi konsumen informasi berbasis TIK.

Para guru hendaknya mampu
memberikan materinya dengan cara-cara yang interaktif agar penerapan pendidikan
karakter melalui TIK dapat berjalan secara efektif dalam mencapai tujuannya,
dan mampu membuat para peserta didiknya menjadi kreatif. Proses pembelajarannya
pun harus menjadi menyenangkan dan bermakna. Pembelajaran lebih berpusat pada
peserta didik atau lebih menempatkan peserta didik sebagai subyek didik
daripada sebagai obyek didik.

Lebih lanjut, dalam proses
pelaksanaan pembelajaran melalui TIK, peserta didik tidak hanya digiring
sebatas untuk mencari dan memperoleh informasi saja, tetapi juga diarahkan agar
memiliki kemampuan untuk menciptakan informasi di internet. Dengan kata lain,
dalam proses pembelajaran melalui TIK, peserta didik harus diarahkan untuk
mampu menjadi produsen pengetahuan, dan bukan hanya sebatas menjadi konsumen
pengetahuan atau penikmat teknologi saja, sehingga dapat membawa perubahan yang
lebih positif bagi peserta didik. Agar bisa menjadi produsen pengetahuan, maka
budaya baca dan tulis menulis harus benar-benar dilatihkan melalui pemanfaatan
TIK secara benar. Para guru pun harus belajar ngeblog agar mampu memberikan
keteladanan kepada para peserta didiknya. Dengan ngeblog, para guru dan siswa
akan menjadi terbiasa menulis. Sebagaimana pepatah yang mengatakan bahwa “satu
kali contoh keteladanan lebih baik daripada 1000 kali perkataan.” Para guru
harus mampu memberikan contoh yang baik dalam memanfaatkan TIK khususnya
internet secara sehat dan produktif. Dengan begitu mereka akan melihat
keteladanan dari gurunya dalam pemanfatan TIK di sekolah. Para peserta didik
pun pada akhirnya akan mengikutipula dalam menjalankan internet sehat dengan
hati yang sehat pula. Hati yang sehat didapat dari pembinaan pendidikan budaya
dan karakter yang terus dikembangkan oleh para guru.
Dalam memanfaatkan TIK,
perlu juga ditanamkan rasa malu dalam diri peserta didik dan aturan yang tegas
agar anak-anak:
(a) tidak bersentuhan dengan
pornografi,
(b) tidak melakukan plagiasi, dan
(c) tidak dibiarkan untuk terus
menerus mengkonsumsi games atau permainan online lainnya di internet yang mengasyikkan.
Jika kita biarkan anak didik kita hanya
menkonsumsi game online secara terus menerus, maka kita akan menghasilkan
sebuah generasi para gamer, dan bukan programer, yaitu sebuah generasi yang
mampu menciptakan berbagai games atau permainan yang mengasyikkan. Progamer
sangat kita perlukan dalam membuat konten-konten edukatif. Dengan begitu
pendidikan ini akan maju dan sejajar dengan negara lainnya. Dalam proses
pembelajaran TIK, hendaknya peserta didik tidak hanya diarahkan untuk kelas
operator saja tetapi menjadi programer aktif yang membuat mereka kreatif dalam
membuat program-program inovatif yang dapat dibanggakan. Lihatlah Fahma, sosok
penemu software termuda di dunia. Dia terlahir dari anak Indonesia yang
bertempat tinggal di kota Bandung. Itulah salah satu contoh dimana pendidikan
budaya, dan karakter terintegrasi dengan TIK dalam proses pembelajarannya. TIK
harus benar-benar dimanfaatkan dengan tujuan para peserta didik mampu
mendengarkan dengan baik, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan begitu mereka
akan mampu menyampaikan pesannya kepada khalayak ramai dan membuat diri mereka
menjadi orang hebat luar biasa karena memiliki kemampuan berbahasa secara baik.
Semua hal di atas itu harus terintegrasikan dalam pendidikan karakter yang
berbasis TIK. TIK harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk menerapkan nili-nilai
dasar pendidikan karakter, dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya agar para
generasi bangsa ini mampu mengembangkan kreativitasnya.
Salah satu contoh yang
paling mudah dalam pendidikan karakter diantaranya adalah penanaman nilai
kejujuran. Para guru harus mampu menanamkan kejujuran dalam diri setiap peserta
didik. Tak berkata bohong (dusta) dan mampu berkata benar dalam segala sikap
dan tingkah lakunya. Nilai-nilai kejujuran tersebut dapat ditanamkan dan
dikontrol melalui media facebook yang sedang booming saat ini, baik dikalangan
anak-anak maupun orang dewasa. Sikap dan perkataan jujur peserta didik akan
dengan mudah tertangkap jelas dari facebook para guru, bila para peserta
didiknya telah berteman dengannya. Oleh karena itu media facebook dapat
dijadikan untuk sarana membangun komunikasi yang lebih dekat antara guru dengan
para siswanya. Melalui facebook guru dapat mengajak dialog atau diskusi dengan
para siswa, sehingga dapat terjalin komunikasi yang positif antara guru dan
siswa. Terjadinya komunikasi yang positif antara guru siswa akan dapat membantu
meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran dan mengefektifkan pencapaian
tujuan pembelajaran, disamping dapat untuk mengarahkan sikap dan perilaku siswa
ke arah yang lebih baik. Nilai karakter lain yang perlu ditanamkan melalui TIK
adalah budaya baca. Budaya baca yang mulai hilang dari dunia anak-anak kita
harus sudah digiatkan kembali dengan konten-konten edukasi yang dibuat sendiri
oleh para guru melalui blog atau website sekolah. Di sinilah para guru harus
mampu menulis, dan membuat para peserta didiknya menjadi gemar membaca.
Konten-konten atau materi pelajaran itu bisa dimasukkan dalam server aplikasi
MOODLE atau Blog yang berbasis Content Management System (CMS). Di tempat itu,
para guru dapat kreatif membuat sendiri media pembelajarannya. Para guru pun
dapat membuat tes atau ujian secara online. Alangkah indahnya jika para peserta
didik kita mampu berinternet secara sehat, menyebarkan berita dengan benar, dan
mampu menceritakan pengalamannya yang mengesankan dalam blog-blog mereka. Dengan
begitu kemampuan menulis mereka pun akan terasah dengan baik, karena sering
menulis di blog. Selanjutnya, agar pendidikan karakter dapat berjalan secara
komprehensif dalam proses pendidikan di sekolah, maka penerapan pendidikan
karakter di sekolah perlu memegang prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Berkelanjutan
mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter
bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk
sampai selesai dari suatu satuan pendidikan.
2) Melalui
semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah.
3) Nilai
tidak diajarkan tapi dikembangkan mengandung makna bahwa materi nilai-nilai
budaya dan karakter bangsa bukanlah bahan ajar untuk pembelajaran biasa.
4) Proses
pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.
KESIMPULAN
Kesimpulannya adalah bahwa
teknologi komputer sangat berhubungan dengan dunia pendidikan salah satunya
adalah berhubungan dengan psikologi pendidikan dimana siswa menggunakan komputer
untuk mngerjakan tugas, penulisan ilmiah, dan skripsi.
Teknologi pendidikan
memegang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya TIK, dimana
komputer menjadi bagian integral didalamnya. Teknologi pendidikan merupakan
pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan
alat-alat baru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
REFRENSI:
Lahey, Benyamin B. Psychology an Introduction,Beth Mejia,New York,2007.
Langganan:
Postingan (Atom)